
Malang – Di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal, siswa SMK Telkom Malang, Aliyan Ridho dan Noura Azhima, menghadirkan inovasi edukatif bernama Nawasena: Seri Batik Malang. Produk ini merupakan board game edukatif berbasis Augmented Reality (AR) yang dirancang untuk mengenalkan Batik Malang kepada siswa kelas IV SD hingga SMP melalui pendekatan belajar sambil bermain.
Pengembangan Nawasena berawal dari hasil observasi yang menunjukkan bahwa masih banyak siswa di Kota Malang yang belum mengetahui bahwa daerahnya memiliki batik khas dengan beragam motif dan filosofi. Berangkat dari kondisi tersebut, tim mengembangkan media pembelajaran yang menggabungkan unsur permainan, budaya, dan teknologi agar proses belajar menjadi lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami.
Selain menghadirkan mekanisme permainan yang edukatif, Nawasena juga dilengkapi kartu AR yang memungkinkan pemain mengeksplorasi motif batik secara lebih menarik. Pendekatan ini dirancang agar anak-anak dapat mempelajari budaya tanpa merasa sedang mengikuti pembelajaran formal di kelas.
Untuk menjaga kualitas dan akurasi materi, tim pengembang menggandeng Soendari Batik sebagai mitra validasi budaya. Seluruh konten dalam permainan, mulai dari pengenalan motif, filosofi, hingga informasi budaya yang disajikan, telah melalui proses validasi bersama pelaku batik lokal guna memastikan ketepatan informasi yang diterima pemain.
Kolaborasi tersebut tidak hanya memastikan kualitas materi, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang lebih nyata. Melalui kemitraan dengan Soendari Batik, pemain berkesempatan mengenal proses membatik secara lebih dekat sehingga pembelajaran budaya tidak berhenti pada teori, tetapi juga terhubung dengan praktik pelestarian budaya yang sesungguhnya.
Efektivitas Nawasena telah diuji melalui implementasi di SD Brawijaya 3 Malang dan SDN Rampal Celaket 1. Hasil uji coba menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap Batik Malang. Jika sebelumnya banyak siswa tidak mengetahui bahwa Malang memiliki batik khas daerah, setelah memainkan Nawasena mereka mampu mengenali berbagai motif Batik Malang beserta filosofi yang terkandung di dalamnya.
Tidak hanya memberikan dampak edukatif, Nawasena juga memperoleh respons yang sangat positif dari para siswa. Evaluasi pascapermainan menunjukkan bahwa mayoritas peserta menganggap permainan ini seru, menarik, dan tidak terasa seperti kegiatan belajar di kelas. Banyak siswa bahkan menyampaikan keinginan untuk memainkan Nawasena kembali apabila tersedia di rumah maupun di sekolah.
Dalam proses pengembangannya, Nawasena juga telah melalui berbagai tahap validasi bersama praktisi industri kreatif, akademisi, pelaku budaya, serta Dinas Pendidikan Kota Malang.

Ibu Ririn dari Dinas Pendidikan Kota Malang menilai bahwa Nawasena menjadi salah satu inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini.
“Nawasena merupakan inovasi yang sangat baik karena mampu menggabungkan unsur edukasi, budaya, dan permainan dalam satu media yang menarik bagi anak-anak. Di tengah menurunnya pengetahuan generasi muda terhadap budaya lokal, pendekatan seperti ini menjadi penting untuk membantu meningkatkan kembali pemahaman dan kecintaan mereka terhadap batik, khususnya Batik Malang,” ujarnya.
Nama Nawasena: Seri Batik Malang dipilih karena Batik Malang merupakan seri pertama yang dikembangkan. Ke depannya, tim berencana menghadirkan berbagai seri budaya dari daerah lain di Indonesia sehingga Nawasena dapat berkembang menjadi media edukasi budaya berskala nasional yang memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada generasi muda.
Melalui perpaduan edukasi budaya, teknologi AR, validasi bersama pelaku budaya, serta kolaborasi dengan UMKM lokal, Nawasena: Seri Batik Malang menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang inovatif dan relevan bagi generasi muda. Dengan model yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia, Nawasena tidak hanya berpotensi menjadi produk edukasi yang layak dipasarkan, tetapi juga menjadi langkah awal lahirnya ekosistem pembelajaran budaya Nusantara yang berkelanjutan.
Nah, Kawan Muda, inovasi seperti Nawasena membuktikan bahwa anak muda Indonesia mampu menghadirkan solusi kreatif untuk melestarikan budaya. Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi lahirnya lebih banyak inovasi yang mengenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada generasi penerus.
Penulis : Aliyan Ridho dan Noura Azhima
Editor : Amirah Huwaidah A (UC Aira)
